Kumpul

Kumpulan Masyarakat Pluralis

Pandangan Esensialistik, A-Historis dan Inkontekstual Tentang Kebudayaan

Posted by kumpul2008 pada Desember 9, 2008

Oleh: Iqbal Hasanuddin

Apakah perdebatan yang terjadi di dalam “polemik kebudayaan” masih relevan untuk kita perbincangkan kembali saat ini? Tidakkah upaya untuk melakuklan pengkajian atas perdebatan tersebut sungguh sudah sangat terlambat?

Bagi saya, tidak ada kata terlambat untuk mengkaji sejarah pemikiran. Apalagi, “polemik kebudayaan” yang terjadi pada 1930-1938 merupakan refleksi atas sejarah kita sendiri, sejarah bangsa Indonesia. Perbincangan kita tentang “polemik kebudayaan” tak ubahnya seperti kita mengkaji Heidegger, Hegel, Kant atau bahkan Aristoteles dan Plato yang proses produksi pemikirannya sangat jauh dari kita dari segi jarak waktu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Membaca Asma Barlas

Posted by kumpul2008 pada Desember 5, 2008

barlasMODEL pembacaan adalah subyek yang sangat serius dalam agama karena dapat digunakan untuk meminggirkan, menindas, dan menciptakan prasangka, bahkan kebencian, pada perempuan dan kelompok yang dianggap ”lain”.

Dr Asma Barlas (55) menyebutnya ”reading patriarchy”. Intelektual feminis Muslim dari Ithaca College, AS, itu mengatakan, setiap pemaknaan terkait dengan pemahaman teks kitab suci oleh masyarakat penafsir. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Benarkah Nabi Menikahi Gadis Di Bawah Umur?

Posted by kumpul2008 pada November 18, 2008

Oleh Yusuf Hanafi

Kaum Muslim seringkali disudutkan oleh pertanyaan berikut, “Akankah Anda menikahkan puteri Anda yang baru berumur 7 atau 9 tahun dengan seorang lelaki tua yang telah berusia 50 tahun?” Mereka mungkin akan terdiam karena bingung atau justru marah karena tersinggung. Lalu, pertanyaannya selanjutnya adalah, “Jika Anda tidak akan melakukannya, bagaimana Anda bisa menyetujui pernikahan gadis ingusan berusia 7 atau 9 tahun bernama ‘Aisyah dengan Nabi Anda, Muhammad bin ‘Abdillah?” Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Opini | Bertanda: , , | 1 Komentar »

Seluk-beluk Studi Yesus Sejarah

Posted by kumpul2008 pada Oktober 30, 2008

Oleh Ioanes Rakhmat

Pendahuluan

Kekristenan selama ini telah terlanjur menekankan bahwa Yesus itu Allah 100 persen; padahal pada sisi lainnya Kitab Suci Kristen dan ajaran Kristen Ortodoks juga dengan sangat kuat menegaskan bahwa Yesus itu seorang manusia juga. Pada satu pihak, di dalam Injil Yohanes 1:1 memang ditegaskan bahwa Yesus itu adalah sang Firman (ho Logos) yang adikodrati, yang telah ada “pada mulanya” dan telah ada “bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah” ; tetapi, pada pihak lain, di dalam Yohanes 1:14 dinyatakan juga bahwa “sang Firman itu telah menjadi daging (maksudnya: menjadi manusia) dan diam di antara kita”. Harus dicatat, kekristenan Ortodoks tidak pernah hanya menegaskan bahwa Yesus itu Allah, melainkan merumuskan bahwa Yesus itu “Allah sepenuhnya dan manusia sepenuhnya.” Dalam Perjanjian Baru ditegaskan bahwa sang Firman yang telah ada “pada mulanya” itu telah tampil dalam tubuh, masuk ke dalam sejarah dunia ini, sehingga ia dapat “dilihat dan disaksikan dengan mata” dan dapat “didengar” dan dapat “diraba dengan tangan” (1 Yohanes 1:1-4). Jika orang menolak realitas kedagingan Yesus dalam sejarah dunia ini, orang itu dikategorikan sebagai “anti-Kristus” dan “penyesat” (1 Yohanes 4:2-3; 2 Yohanes 7). Selain itu, kemanusiaan dan kebersejarahan Yesus juga dikokohkan oleh dipakainya bentuk sastra berupa Injil-injil Kristen intrakanonik (Markus, Matius, Lukas dan Yohanes) sebagai narasi-narasi teologis biografis historis tentang Yesus yang hidup dalam dunia ini, tentang ajaran-ajaran, karya-karyanya dalam dunia nyata ini semasa ia hidup dan tentang peristiwa-peristiwa penting yang bermuara pada kematiannya. Narasi-narasi biografis historis tentang Yesus yang menjadi bagian dari kanon Kitab Suci Kristen ini memang telah diabaikan begitu saja oleh kalangan-kalangan dalam kekristenan yang hanya mau melihat dan memercayai Yesus sebagai Allah, dan melupakan kemanusiaannya yang sebenarnya (kalangan yang pada masa kekristenan perdana disebut sebagai kalangan Kristen doketis). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Makalah | Bertanda: , | 3 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.